RSS

Sajak Puja Puji Merindu

05 Mar

Aku sadar aku bukan kamu.

Aku bingung karena aku bukan kamu.

Sekali lagi aku pusing karena aku bukan kamu.

Bahkan tak mungkin aku menyamai dan berusaha aku adalah kamu.

 

Hanya berharap Tuan,menjadi yang dicintai.

Tapi tak berhenti disitu Tuan,tetapku berupaya tuk dicintai.

Masih tetap terus Tuan,karena aku ingin dicintai.

Dan aku sadar Tuan,harusnya ku mencintai tuk dicintai.

 

Ucapku dengan lisan tak terhenti, Terimakasih.

Terus ku ajukan dengan hati, Terimakasih.

Tanpa menghitung tetes keringat, Terimakasih.

Dan aku sadar Tuan,karenamu ada semua, Terimakasih.

 

Bagai purnama di malam hari menyinari gelap gulita.

Bersanding dengan kerlip lintang menjadi panorama.

Tanpamu dunia petang sunyi senyap tanpa cahaya.

Hingga ternyata langit iri kepada bumi karena paduka.

 

Wahai pencerah kegelapan.

Aku merindumu sang pembawa harapan.

Bagi mereka yang kau perjuangkan.

Nada tangismu karena ulah umat menyerupai hewan.

 

Bukan maksud melukai hati paduka.

Tapi kelemahan hamba yang tak mampu menghindari dosa.

Tak faham jika itu membuat hati luka.

Karena asa, cita dan cinta memang seharusnya untuk paduka.

 

Doa hamba tak akan putus menyertai.

Berharap engkau berkata iya bahwa syafaat untuk kami.

Berharap adalah engkau penolong di mahsyar nanti.

Doa hamba tak akan putus menyertai.

 

Allah,kerajaan ‘Arsy-Mu yang Agung.

Terpampang jelas Syahadat Islam nan anggun.

Menggetarkan jala kehidupan semesta agung.

Kembali ku tersimpuh tetes air mata memohon ampun.

 

Bagaimana mungkin kami kembali suci.

Dengan umur yang tak bisa kembali.

Hanya berharap ridho Ilahi Robbi.

Tuk bersanding denganmu,wahai pemimpin kami.

 

Bismillahirrohmanirrohim.

Sebelum berdosa kami di dalam rahim.

Entah kami bukan atau tidak ‘alim.

Tapi tetap suatu hari nanti pengadilan Allah yang ‘Adzim.

 

Mohon ampun Gusti, kami tak sanggup lagi.

Mohon kasih sayang Robbi,kami tak pantas dalam jannati.

Mohon ridho Ilahi,kami tak kuat dalam penjara api.

Mohon syafaatnya ya Nabi,penolong kami dalam menjalani hari.

 

Bagaikan separuh jiwa ini adalah dirimu,tanpamu tak hidup jiwaku.

Maha Sempurna Tuhanku,pencipta keelokan makhluk sepertimu.

Dan selamanya, shalawat salam tercurahkan kepadamu.

Wahai, sang pembawa rahmat, karena kaulah kekasihku.

 

Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bin Abdillah.

Sang kekasih.

 

Dariku, umat yang merindumu, Ardhy.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2011 in Puisi-Puisi hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: