RSS

Renungan Senja

21 Feb

Duduklah,atau berdiriah,menatap atas,langit biru berbaur putih yang menyejukkan mata. Pejamkan matamu, rasakan ketenangan yang terasa, bentangkan kedua tangan, hirup udara pelan, semakin dalam, dalam, dalam dan pelan-pelan keluarkan melalui mulut. Masih dalam keadaan mata terpejam, kepalkan jari-jari, mulai keluarkan kekuatan ototmu, tahan, dan ungkapkan, lampiaskan dengan teriakan yang sangat keras. Kemudian tenang kan diri, duduk bersila, dan renungkan……

Ketika itu dia malu untuk mendekatinya, akan tetapi rasa dalam hatinya tetap bergelora ingin selalu bersamanya, hingga akhirnya bersatulah mereka dalam ikatan suci pernikahan. Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu, cinta yang semakin kuat dirajut, kasih sayang yang terus terasa diantara mereka, hingga akhirnya datanglah yang dinanti, buah hati yang akan menjadi kebanggan mereka. hati-hati sekali sang ibu merawat kandungannya, begitu juga sang ayah yang mati-matian menjaga sang ibu dan janin yang ada di rahim sang kekasih. Lama menunggu, waktu pasti akan tiba, karena waktu tak akan pernah berhenti. Lahir, setelah mengalami perhelatan hebat, persaingan yang melibatkan saingan berjuta-juta sel, dan KAMU lah yang terpilih!

Kau telah lahir ketika itu, setelah malaikat kasih sayang dari Allah berperang melawan maut, berjihad di jalan Allah demi kamu. Rasa sakit itu tak tertahankan, kau pun mungkin tak akan kuat menahannya, tapi dia, malaikat kasih sayang, kau biarkan menangis menderu merintih kesakitan berjibaku melawan maut demi mandapatkan senyum bahagia memeluk dan menciummu. Sebelum dilahirkan didunia, kehidupanmu sungguhlah menyenangkan, serasa surga, apa yang kamu mau tersedia, penjagaan-Nya pun penuh atas kamu, hingga kal itu kau berdialog dengan-Nya sebelum kau akan dilahirkan, mungkin dirimu seolah tak rela, tapi itu sudah menjadi kodrat.

Kamu bertanya kepada-Nya “Bagaimana aku bisa hidup disana, tempat yang tak pernah aku kenal”.

Dia menjawab “Kau akan melanjutkan perjalanan hidupmu disana, disana semua juga tersedia”.

“Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa penjagaan-Mu? sementara disana aku tak punya siapa-siapa”.Kau melanjutkan pertanyaanmu.

Dengan sabar Dia menjawab “Kau tidak sendirian, Aku akan terus bersamamu selama kamu mengingatku”.

Kau masih tetap bertanya, kau lanjutkan lagi pertanyanmu “Siapa yang akan menuntunku untuk hidup disana, untuk selalu mengingat-Mu, karena aku ta bisa hidup tanpa-Mu”.

“Aku akan mengirimkan malaikat yang akan menjaga, mendidik, dan menyiapkan semua yang kamu butuhkan, kasih sayangnya juga penuh untukmu, malaikat itu ikhlas, tulus, merawatmu hingga kau tak kesepian lagi, tenanglah, Aku tak akan pernah meninggalkanmu, selama kau masih mau bersamaKu”. Dengan sabar sekali lagi Dia menjawab.

Kembali kau bertanya. “Tapi disana begitu asing bagiku, disana aku tak lagi bisa mengadu kepadaMu, aku tak bisa lagi merasakan kasih sayangMu secara penuh”.

Tanpa berkurang kesabaranNya, Dia menjawab pertanyaanmu. “Percayalah, yakinlah, kau akan tetap menjadi hambaku dan kasih sayangku tak akan pernah luluh, selama kau masih mau mengenalku, malaikatmu akan membimbingmu kemanapun, kapanpun dan dimanapun”.

“Kalau aku boleh mengetahuinya, siapakah malaikat yang Engkau maksud?”. Tanyamu penasaran.

Jawaban singkat dan jelas dariNya untuk menjelaskanmu. “IBU”.

Benar saja, tanpanya kau tak akan hidup, tanpanya kau tak akan bisa seperti sekarang. Husnudzon kepadaNya dan kepadanya, berbakti kepadanya dan tetap mengabdi kepadaNya akan membuatmu merasakan kasih sayangNya yang kau kira taka akan ada lagi menyertaimu.

Sekarang, kau beranjak dewasa, kau sudah mampu berfikir, kau juga sudah bisa menyalahkan dan membenarkan, kau bisa bernalar, kau bisa berfikir, kau bisa menelaah, dan kau juga bisa merenungkan.

Jika kau flashback, pandanglah mata ibumu, mata indah dengan senyumannya yang menentramkan jiwamu. Kasih sayangnya yang tak pernah hilang, bahkan tak berkurang. Terimakasih katamu, itu tak akan pernah cukup dan bisa membalas semua jasa dan pengorbanannya.

Wajahnya kini tak secantik dulu, raganya kini tak sekuat dulu, umurnya kini tak semuda dulu, tapi ketahuilah, jiwanya akan tetap ada untukmu, nalurinya akan tetap mengingatmu, buah hati yang menjadi kebanggaannya. Karena memang tak lama umurnya dan umurmu, yang muda akan menjadi tua, dan yang sudah waktunya akan kembali kepadaNya, mempertanggungjawabkan ketakutanmu kepadaNya dulu, apakah kau masih mampu mengingatNya?

Pertemuan akan berpasangan dengan perpisahan, pertemuan pertama mungkin membutuhkan adaptasi, hingga kau merasa nyaman, tenang dan merasa sangat memiliki dan membutuhkannya, dan kau tak rela dia meninggalkanmu. Tapi ingatlah, pertemuan akan bertemu juga dengan perpisahan. Sadarlah, dunia ini fana, semua akan kembali kepada-Nya, termasuk langit dan udara yang kau rasakan tadi, hanya satu yang akan membuatmu bangga dan bahagia ketika kau lahir kau menangis keras di hadapan mereka, dan mereka tersenyum dan tertawa bangga atas kelahiranmu, dan ketika kau mati, kau mati dengan tersenyum bahagia sementara dunia bersedih karena kehilanganmu.

Rasakan, karena sumber dari segala sumber kekuatan besar adalah rasa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 21, 2011 in Puisi-Puisi hati

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: