RSS

Merjosari-26 January 2011 Pagi yang cera…

26 Jan

Merjosari-26 January 2011

Pagi yang cerah, penuh doa dan harapan dari masing-masing pegawai pasar merjosari kala itu. Pegawai yang tak lain adalah para penjual barang dagangan pasar, dimana dari mereka terlontar harapan-harapan akan barang dagangnya yang berada di hadapannya itu. “Laris…laris… Wes mugo-mugo cepet entek dagangane lan oleh duwit maneh”, kata salah satu penjual buah sambil menyapu-nyapu kecil dagangannya dengan uangnya. Suasana yang ramai itu setiap hari bisa ditemui, pasar Merjosari, kondisi lingkungan yang tak terlalu kumuh, dengan tempat parkir di depan pasar yang relatif luas, gerbang pasar dan jalan yang mudah untuk dilalui, membuat orang-orang gemar berbelanja di pasar itu, pagi itu pun seolah tak mau ketinggalan, waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, pasar sudah dipenuhi orang yang saling tawar menawar barang dagangan, ada yang ramai menawar di stand ikan, ada yang mencicipi buah yang akan dibelinya dan bahkan ada juga dari mereka yang kurang beruntung, duduk termenung menengadahkan tangannya berharap ada sejumlah orang yang ikhlas meletakkan koin berharga di tangannya, pengemis.

Suasana riuh, penuh canda dan tawa antar penjual dan pembeli, seolah telah membawa mereka ke kebahagiaan yang sangat bernilai, mereka tak lagi pusing oleh keadaan negara yang semakin riuh dan ricuh karena esensi hukum yang semakin menghilang, politik bersih semakin terhapus, dan para pejabat korup yang semakin merajalela. Belum lagi mendengar candaan para tukang becak yang sering mangkal di depan pasar, yang semakin seru dan lucu membuat suasana terasa aman tentram dan sejahtera, terlihat sekali rasa persaudaraan dan kekeluargaan mereka. “mang, we ngerti ora, Mafia pajak kae nek cewok gae opo?”…. “ora ngerti cak,gawe duwit paling, diser-ser no silite dewe, hahahaha…………” “Ora kang, Mafia pajak kae nek ngising ning kali karo gowo pecut…”  “Lha kok iso mang?”  “Pecut e wi digawe mecuti iwak ning ngisore ben gak mangan tai ne, bayangno, wong taine dewe ae nek ngeman-ngeman eram. Hahahahah……..”  “Bener kang, wong serakah i yo ngono wi, sewu rong ewu gak cukup, nganti duwit rakyat di pangan pisan.” “Coro tai ne dewe emas nu paling yo gelem mangan kuwi. hahahaha….”  “Lha we gelem ta cak nek misal e disuap kon nyewok i Mafia pajak? Hahaha…”  “Wegah mang, nyewok i bojone gelem aku. Hahaha…..”.

Canda tawa mereka menghujat kebobrokan akhlak para pejabat di atas mungkin merupakan rasa kekecewaan dan protes semu dari para orang-orang kecil seperti tukang becak. Hal-hal ganjal tentang keadilan negara ini merupakan bahan omongan seru bagi mereka sambil menunggu penumpang.

Pagi itu semakin panas, matahari memprcepat geraknya, membuat dahaga pun melanda. Bondan yang sudah dua hari tak pulang kerumah semakin gelisah, sudah dua hari ini dia berusaha mendapatkan uang untuk biaya melahirkan istrinya, kelahiran anak pertamanya itu membuat dia banting tulang,lari tunggang langgang dan memeras keringat sampai tetes terakhir demi anaknya yang sangat dia dambakan. Biaya yang tak murah membuat dia rela membiarkan istri dan anaknya di rumah sakit. Sebelum pergi dua hari lalu, dia sempat menggenggam tangan istrinya yang sedang berjuang melwan maut demi buah hatinya yang pertama. Dia meyakinkan istrinya yang sudah mulai putus asa, dia ngomong kalau dia sayang,dia akan menjaga nya sampai mati,dia akan ikut mati jika dirinya mati,demi sang buah hati. Cinta sucinya itu membawa ke penyatuan batin di antara mereka.

Setelah lahir anak pertamanya, laki-laki, bahagia sekali tercermin di wajah mereka, rasa syukur dan senang atas anugerah Tuhan membuat mereka sejenak melupakan dunia, melupakan biaya yang wajib dibayarnya. “Mas, nopo saget awak e dewe nyaur biaya babaran niki? Mesti bayar e larang sanget, jatukne misal wingi awake dewe ora ning rumah sakit, teng dukun wae paling bayar e mboten larang-larang”. Kata itu memecah konsentrasi Bondan yang sedang bebahagia mendapat anugerah Tuhan. “Sabar ya dek, mas pasti balik gowo duwit, mengko iso digawe nebus tole lan gowo muleh awakmu”. Setelah berpesan dan berpamitan kepada istrinya, Bondan pergi entah kemana mencari uang demi anaknya. Semua pekerjaan dia kerjakan, mulai dari kuli sampai menjadi pengatur jalan di perempatan. Pendapatan yang tak besar memang, tapi dia yakin pasti dihari ketiganya dia pasti balik dan membawa uang untuk istrinya.

Panas sekali siang itu, membuat tenggorokan Bondan kering. Uang yang dia dapat baru separo untuk pembayaran persalinan istrinya. Disaat dia istirahat, dia melihat ibu-ibu yang selesai berbelanja teriak-teriak. “Maling… Maling…”. Bondan melihat dua orang berlari di depannya, dua laki-laki itu langsung menaiki motor yang masing-masing dikendarai temannya yang sudah siap menjemput, karena takut tertangkap, penjahat itu melempar tas dan dompet ibu-ibi tadi tepat di pelukan Bondan yang sedang istirahat di bangku panjang di bawah pohon. Orang-orang yang mendengar teriakan ibu tadi sontak kaget dan langsung mengejar penjahat itu, meskipun tak bisa menangkap penjahatnya, tapi ada salah satu orang berteriak “Iku lho pakdhe, maling e tibo ning ngisor wit, iku tas e ibune…”.

Bondan yang tak tahu apa-apa kaget dan tak tahu harus berbuat apa…… (Bersambung).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 26, 2011 in Cerpen

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: